Rabu, 29 April 2009

Rak Koleksi DVD Buluk Gue

Akhirnya setelah gue pikir-pikir gak ada salahnya gue nampilin Rak tempat bernaungnya koleksi Dipidi-Dipidi buajakan baik yang buluk dan kaga buluk gue.
Orang aja bisa narsis, kalo ini bisa dibilang dipidi-dipidi narsis, heuehuehue...

Pada rak bagian atas ini, terdapat koleksi dipidi buajakan yang notabene pilem-pilem hollywood papan atas (papan pen
ggilesan dipake emak gue, gak nyambung ya gan?gpp de)



















Pada bagian Rak kedua ini, isinya Pilem-pilem Asia dan campuran yang CukupMenghiburDiSaatSedangTakAdaKerjaan, Ada juga Dipidi Mv dan Karaoke yang Nyasar...

















Nah kalo yang ini Rak-rak koleksi Dipidi gue berdasarkan kategori jenis pilem, dari pilem Serial, Gebok-gebokan, Jitak-menjitak, Cinta-cintaan, Balap-balapan, Setan-menyetan juga ada lho...

Nah, inilah koleksi Dipidi gue yang nemenin gue ngabisin waktu kalo lagi nyantai n mumet ama segala aktipitas yang gue lakukan sehari-hari (kalo bernapas gue masih sering lakukan dan ga bosen-bosen seh, heueheu)...

Senin, 27 April 2009

Sebuah Renungan Dari Andi F Noya


Hmm...Ini ada sebuah renungan tentang hidup yang setelah gue baca ternyata punya arti dan makna yang cukup mendalam. Salut buat yang menulis ini...

Kaca Spion by Andi F Noya

Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta .

Tapi, suatu hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana .

Bukan untuk baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan.
Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler.

Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu.

Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul.

Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama.

Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda?
Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri.

Bukan soal rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah.

Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro.

Ini tempat favorit saya.

Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia.

Biasanya satu sampai dua jam saya di sana .

Jika masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya minati.

Bau harum buku, terutama buku baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang.
Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di luar pagar.

Kain penutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero
Jakarta . Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong.

Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi.

Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang Indonesia .

Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis Indonesia.

Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA.

Karir saya terus meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan Metro TV.
Sampai suatu hari, kerinduan itu datang.

Saya rindu makan gado-gado di sudut jalan itu.

Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadi gundah.

Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan kegundahan tersebut.

Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri saya sendiri.

Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan
punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah.

Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya.
Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya .

Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjadi trauma masa kecil saya.

Waktu itu umur saya sembilan tahun.

Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola.

Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah.
Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang.

Jarak 10 kilometer saya tempuh tanpa berhenti.

Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur.

Upaya yang sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca.

Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. D

engan ukuran kamar yang cuma enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu.

Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar.
Rupanya sang pemilik mobil datang.

Dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya.

Intinya dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.
Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion mobilnya.

Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar.

Terutama bagi ibu yang mengandalkan penghasilan dari menjahit baju.

Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu.

Dalam sebulan, order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma satu. D

engan penghasilan dari menjahit itulah kami - ibu, dua kakak, dan saya - harus bisa bertahan hidup sebulan.
Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut.

Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang.

Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uang untuk itu.

Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan.

Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion mobil baginya?

Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?

Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba.

Saya benci pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal.

Saya benci orang kaya.
Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobil mewah.

Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya.
Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya.
Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan.

Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari.

Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan.
Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di dalam mobil mewah.

Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan.

Mereka tidak punya hati nurani.
Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliah begitu lezat,

saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enak di lidah.

Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah berubah. Hal yang sangat saya takuti.

Kegundahan itu saya utarakan kepada istri. Dia hanya tertawa. ''Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah.

Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan. D

ulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan.

Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang enak-enak.

Citarasamu sudah meningkat,'' ujarnya. Ketika dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan,

"Kamu berhak untuk itu. Sebab kamu sudah bekerja keras."
Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu.

Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang kaya itu jahat.

Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya terima, ada ketakutan saya akan berubah.

Saya takut perasaan saya tidak lagi sensitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado yang berubah rasa.

Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong.
Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif.

Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya tabrak.
Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam
kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang.

Penumpang dan orang yang dibonceng terjerembab.

Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah.

Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya.

Namun, saya terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh.

Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi.
Selain karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok.
Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas.

Wajah pucat itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion.

Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung.

Sang ibu, yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf atas keteledoran anaknya.

Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi.
Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera luluh.

Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya.
Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu.

Apalah artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul.
Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka.

Dengan begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan.

Setidaknya siang itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian.

Kebencian seperti yang pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup yang pahit.


Well...menurut opini gue pribadi, kehidupan itu terus berputar bagai roda tiada kendali, gak selalu kita berada di bawah dan gak selalu juga kita berada di atas. Renungkan dan Syukurilah apa yang terjadi dalam hidup ini.



Jumat, 24 April 2009

Postingan poster Ngaskus doeloe

Wakakakaka...
Pengen ngakak gw liat postingan lama poster bikinan gw di kaskus yang atu ini...

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1413855

Cek it out..komen-komenny, huahahaa...

Kamis, 23 April 2009

Pertanyaan TerGokil Ala Gue

Eng ing eng...saatnya pertanyaan Gokil ala gue,
jawabannya BisaBenerBisaEnggaSukaSukaGue...

Are U ready...Here We Go!

Tanya: Kenapa kalo ngupil pake jari telunjuk bukan jari yang laen?
Jawab: Karena jari telunjuk gue pas ama gedenya lobang idung gue untuk ngupil,
kalo pake jari tengah kegedean, kalo jari kelingking kekecilan. jadi yang pas n afdol aj.

Tanya: Kenapa karakter Doraemon gendut?
Jawab: Kalo Doraemon begenk, kaga laku Dorayaki.
Dibikin gendut supaya kaga kesaru ama kucing tetangga nobita.

Tanya: Kenapa Cowok punya puting dan fungsinya buat ape?
Jawab: Cowok punya puting supaya kaga ngiri n protes ama Cewek,
trus biar gampang buat ganti kelamin. Fungsinya buat aksesoris kalo telanjang dada..hehe

Tanya: Kenapa Batman pake topeng, Superman kaga?
Jawab: Batman pake topeng buat nutupin mukanya yang ganteng
biar ga dikenalin ama cewek2 yang dikencaniny.
Superman kaga pake topeng karena males bikin topeng.

Tanya: Kenapa Robin selalu nemenin Batman?
Jawab: Karena Robin jatuh cinta ama Batman,
buktinya sama-sama pake sayap bareng walau tak bisa terbang

Tanya: Kenapa orang gila suka telanjang n nyanyi-nyanyi sendiri?
Jawab: Telanjang karena bajunya dirampok ama orang gila laen,
Nyanyi-nyanyi sendiri karena kaga ada yang mau dengerin dia nyanyi
trus punya motto "Pok ame-ame, Gak ada gue, Gak rame!"

Tanya: Kenapa kecoak warnanya item trus kadang bikin jijik?
Jawab: Warnanya item supaya kaga keliatan gendut badannya.
Kalo warnanya gradasi atau bunglon, pasti bukan kecoak
Bikin jijik karena bisa nemplok n mejret pas keinjek sendal jepit.

Tanya: Apa persamaanya Atlit Sepak Bola dengan Atlit Bola Basket?
Jawab: Keduanya sama-sama bau badan dan dibegoin ama bola waktu latihan dan pertandingan.
Keduanya sama-sama ngejer bola buat dimasupin supaya menang.

Tanya: Kenapa ayam berkokok di pagi hari dan matanya merem?
Jawab: Kalo berkokok di siank,sore atau malam hari pasti jadi ayam gorenk atau ayam bakar.
Di saat berkokok matanya merem karena menghayati kokok-nya
atau ngantuk karena malemnya bergadank bikin anak ayam.

Tanya: Kenapa Lampu di dada Ultraman kedap kedip trus dia terbang?
Jawab: Berhubung dah teken kontrak sama batere energizer sebagai uji coba ketahanan batere charge, makanya dia harus terbang balik ke pabrik buat charge lagi dan nyoba batere laennya.

Tanya: Kok Monyet bisa niru manusia, Manusia gak niru Monyet?
Jawab: Karena Monyet gak takut dikutuk jadi Manusia karena niru manusia,
Sedangkan Manusia gak mau dikutuk jadi Monyet gara-gara niru Monyet.

Partner in Kuliner

Sebagai panda jantan yang beradab dan kadangrakuskadangtidak, gue sering tak bisa mengontrol hawa nafsu makan dikala laper yang berkepanjangan. Oleh karena itu, gue membutuhkan partner yang sepadan dan menekuni hobi yang sama kek gue yaitu MakanBanyakYangPentingEnakDanKadangMurahKadangMahal(panjang buanget kaya kereta api yang lupa masuk gerbong)
Setelah melakukan seleksi dengan lomba ketangguhan makan indomie rebus, maka terpilihlah 2 mahluk ini...




















Keterangan:
"Mr Leo aka daun"
Jangan tertipu dengan penampilan mahluk yang atu ini
Manusia kayak kecoak cekhing hidup ini
Mampu makan sebanyak-banyaknya di saat laper berat
dan tertidur di saat ngantuk berat(apa hubnya?)

"Mr Erik aka cumi"
Dengan ciri khas muka unik dan langka ini
manusia ini suka menghilangkan kejenuhan dengan makan semaruk mungkin
bagai cumi-cumi yang bertentakel
dia mampu menghabiskan semua jenis makanan

Tempat lokasi pembantaian massal ini di Yuraku kelapa gading. Dapat terlihat banyaknya piring dan mangkuk yang kandas isinya akibat kekejaman dan kebringasan dua mahluk hidup ini(yang atu lagi ga keliatan karena lagi motoin, itu gue).

Our motto:
"Hidup ada karena kita makan, makanya makan kalo mau hidup"
"Mau semangat makan anda lebih berarti, buas dan bersemangat?"
Hubungi kami..hohohoho...

Nb: Foto di atas dipublikasikan di blog ini dengan unsur kesengajaan dan tanpa sepengetahuan mahluk yang bersangkutan

Rabu, 22 April 2009

Hunting DVD

Kalo ngomongin soal DVD(bacanya dipidi), Gue mungkin salah satu diantara sekian ribuan manusia di indonesia yang juga hobi nonton n hunting Dipidi. Ada beberapa kategori tipe manusia yang termasuk sebagai "hunting-ers"(istilah gue buat para pemburu DVD). Kek apa aja yah jenis-jenisnya(ya kaya plora n pauna aje ada jenis-jenisnya gitu)
Nih gue jabarin atu per-atu, tapi ini kategori ala gue aj...


1. Tipe Hunting-ers Dipidi yang SPA (Sejati dan Penuh Arti)
Tipe manusia ini kaga bakal lu jumpain di pusat-pusat DVD bajakan(Glodok, Mangga dua, jembatan lima, dsb). Biasanya Hunting-ers ini sukanya ke pusat-pusat Pembelanjaan yang jual DVD berkualitas ORIGINAL dan BOXSET, bahkan mereka memperhatikan pula Region dan Special Features yang terdapat dalam DVD Ori tersebut dan ga segan-segan nanya atau komplain sama penjualnya. Bagi mereka DVD yang mereka beli tersebut harus berkualitas dan memberikan arti yang dalam pada saat ditonton. Misalnya saja Dipidi Box Office seperti "Lord Of The Rings Trilogy" "Matrix Trilogy" "Star Wars Collections", dll...
Pokoknya buat mereka, "Say no tu DVD ecek ecek"

2. Tipe Hunting-ers Dipidi yang BTNT (Beli Terus Nonton Terus)
Tipe manusia yang satu ini, bakal sering setor muka di pusat-pusat DVD dijual. Hunting-ers tipe ini sangat suka membeli DVD, soal kualitas kadang diabaikan dan sangat tergantung pada kesiapan dana yang dimiliki. Biasanya sih, karena terlalu sering hunting, bajakan lebih sering diembat. Terkadang sering ditipu penjual karena hasrat ingin nonton terus yang menggebu-gebu bak gempa bumi heueheu...
"Mas, ini yang lagi maen di bioskop kan? dah bagus lum gambarnya? Yang ini..dan yang itu..."
"Wah itu dah oke banget mas semua, kualitas ori" (cuap-cuap tifuan kamfret sambil nyegir kuda)
"Ok deh, saya ambil semua ini."(Muka ceria plus oon n mupenk kebelet nonton)
Dan biasanya juga, tipe hunting-ers yang jenis ini lebih memilih nonton Dipidi di rumah dibanding nonton di bioskop lho.

3. Tipe Hunting-ers Dipidi yang BTNK (Beli Terus Nonton Kaga)
Kalo tipe manusia yang ini, hampir sama dengan tipe BTNT diatas, sama-sama suka setor muka di pusat pembelanjaan DVD. Tetapi cenderung menanyakan Kualitas pelem meskipun itu bajakan (Kadang-kadang beli ORIGINAL juga tapi kalo lagi ada sale atau diskon tertentu). Suka ga tahan hasrat beli kalo liat Dipidi2 yang dipajank di toko pada saat kebetulan lewat atau sengaja ke toko itu padahal belum tentu ada waktu untuk nonton di rumah.(Numpukin koleksi Dipidi yang keren-keren ampe segunung cuman buat pajangan karena seringnya hangout atau sibuk ama kerjaan)
Biasanya ngeboronk DVD atau beli atu-atu, dengan mottonya "Yang penting punya, nonton belakangan"

4. Tipe Hunting-ers Dipidi yang BKMI (Beli Kaga Minjem Iya)
Wah kalo tipe manusia hunting-ers yang model ini sering menjadi teman atau partner dari ketiga tipe hunting-ers diatas. Bisa sohib deket, pacar atau pasangan hidup. Biasanya suka menanyakan pada tiga manusia tipe diatas kalau-kalau ada Dipidi yang terbaru dan kualitas Ori untuk dipinjam, selain itu hunting-ers jenis ini jarank sekali nongol di pusat-pusat pembelanjaan DVD dan seringnya browsing atau googling untuk mencari tahu pelem-pelem yang bagus.
"Tuuut....tuuuut...tuuut...Halo?"
"Alo sob, gue kemaren liat di net ada Dipidi bla..bla..bla...lu punya n beli gak semua itu?"(dengan nada membujuk dan memelas seperti orang nahan boker seminggu)
"Wah..gue cek dulu ntar..kayanya sih ada beli pas kemaren-maren di glodok dan mangdu"(sengaja ragu-ragu karena udah tau the maksud dan modus operandi dari si penelepon)
"Okay sob, nanti gue mampir ke tempat lu yah minjem semua itu, bisa kan?"(agak Maksa mode on supaya si penerima telepon serius nyariin dipidi yang mau dipinjemny)
"Ya udah de sob, dateng aj"(merasa ga enak karena sohib deket banget yang sering berbagi permen dan coklat (lho? kek maho? wkawkawka)
Oh ya, Kalo tipe hunting-ers ini cewek atau pacarnya, biasanya langsung berhasil untuk dipinjem Dipidi yang dibutuhkan lho.(Survey berdasarkan dalamnya rayuan n cinta, hauahuaua)

5. Tipe Hunting-ers Dipidi yang BKKKDNP (Beli Kaga Karena Kaga Demen Nonton Pelem)
Kalo tipe manusia yang ini, gue ga bisa komen deh. Jelas-jelas kaga demen nonton pelem, jadi gak mungkin beli n jangan heran kalo muncul pertanyaan darinya kek gini...
"Dipidi itu apaan ya? Sejenis makanan sob?"
"Pelem emangnya apaan sih? Gue biasanya cuman denger cuap-cuap orang ngomong (radio).."
Absolutely, gak bisa komen gue...
Mungkin sebaiknya kalo ketemu yang tipe ini, lu sodorin bokep langsung biar matanya kebuka lebar bak ikan mas koki keabisan aer..

(Tambahan, thx to miss din2^^)
6. Tipe Hunting-ers Dipidi yang PLBA (Pinjem Lalu Bajak Ah)
Tipe hunting-ers ini seringnya muncul di rumah-rumah teman dan tempat rental Video(VideoEzy, Ultra disc, dsb). Memilih Dipidi yang benar-benar disukainya lalu dipinjam dan dibajak di rumah dengan CD/DVD Writer baik yang hak milik maupun bukan hak miliknya(Nebeng sohib atau di kantor). Tujuannya untuk dikoleksi dan ditonton kalo sedang senggang dan tidak ada kerjaan alias nganggur kuadrat hehehe...


So, tipe Hunting-ers Dipidi yang manakah elo? Huahahaha....

Senin, 20 April 2009

Pelem buat Yang lagi Stress ama Hidup ala Gue

Buat semuanya yang lagi stress, depresi n sejenisnya dan butuh ngeliat yang gila-gilaan, gue saranin untuk ngeliat 2 pelemnya si jason statham ini deh...

Menurut gue sih, ni pelem gokil dan penuh aksi gila-gilaan. Memacu Adrenalin sampai tingkat yang paling maksimum memang dibutuhkan kalo lagi stress kali yakk, Huahahaaa..(Gue seh lom pernah nyoba loh^^)

Tapi ni pelem ga gue rekomen buat yang masih di bawah umur, adengan seks vulgarnya (Di jalanan umum sama arena pacuan kuda, gokil ga tuh!) Adengan baku tembak yang brutal (Darah ngocor kemane-mane plus usus terburai-burai, eneg?)
dan yang paling gila-gilaan, Nyetrumin diri pake aki mobil sama GARDU LISTRIK TEGANGAN TINGGI! (Don't try this at all se depresi apapun elu dalam hidup, bukan lu oon tapi demen dibegoin pelem hauahauhau (Ya ya ya kamfret, termasuk gue dunk T_T))

Worthed or Not ini pelem, tergantung mood lu lagi apa deh...
Lu stress ama keadaan lu sekarang, gue anjurin nonton ni pelem
Lu happy ama keadaan lu sekarang, gue anjurin nonton pelem laen
Wakakakakaka....