Rabu, 13 Mei 2009
No Body Is Perfect
Kata-kata itu selalu tergiang-ngiang di otak gue disaat gue lagi menghadapi berbagai cobaan, pengharapan yang pupus dan ketidak-adilan dalam hidup gue. Disaat gue down, mungkin otak gue ga bisa bekerja dengan semestinya karena terbawa letupan emosi dalam diri.
Kadang secara ga sadar, kita selalu nge-judge people seperti ini seperti itu, padahal diri kita sendiri belom tentu benerr. "Jangan menampar jika tak ingin ditampar"
Menurut gue, Intropeksi atas diri itu emang perlu, tapi ga malah bikin kredibilitas buat diri kita sendiri dan menjadikan seakan-akan kita terlahir kembali menjadi sesuatu yang sempurna.
Sejauh mana lo bisa menanggapi segala hal yang terjadi dalam hidup lo, baik itu dari sisi positif dan negatif serta bagaimana lo bisa menemukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan semua hal yang terjadi dalam hidup lo itu adalah bagian yang terpenting dalam proses menuju suatu kedewasaan dalam hidup.
Gue bisa memberikan masukan dan saran kepada orang lain, tapi gue juga ga muna kalo gue butuh orang lain untuk membuat gue menjadi manusia yang lebih baik lagi. Sebagai manusia, sudah kodratnya untuk saling mengisi dan saling membutuhkan antara satu sama lain.
Musuh terbesar dalam diri kita adalah Ego. Jika kita bisa mengendalikan Ego kita dan mampu untuk berpikir secara jernih di saat kita terbawa oleh suasana emosi dalam hati, maka semuanya akan terasa begitu ringan dan gue yakin apapun masalah yang dihadapi akan terselesaikan dengan baik.
Jadi. Gue, elo, kita semua sama...
"No Body is Perfect", ah betapa berartinya kata-kata itu untuk direnungkan...
Kamis, 07 Mei 2009
KoMik AnCur Gue
Oh ya g masukin jg di forum kaskus niy...
Cek this thread ya ama komen2ny
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1904973
TUKANG BAJAY GOKIL SAVE MY LIFE!
Senin, 04 Mei 2009
Tipe-tipe Penonton Film
ada kebiasaan para pengunjung bioskop yang berbeda-beda lho(Mukanya n bentuk fisik seh dah jelas pada beda karena bukan kloningan kaya pilem Matrix)
Terlepas dari bagus jeleknya pelem yang ditonton tergantung juga ama yang nonton, hehe...
Nih, tipe-tipe penonton pilem yang ada di bioskop, simak nyok...
1. Penonton Cari Perhatian
Tak bisa dipungkiri sejak jaman doeloe kebiasaan nonton di bioskop merupakan ajang sosialisasi dengan teman-teman dan sanak saudara. Seen and to be seen.. Tak heran jika ada orang yang tampil maksimal dengan penampilan super duper wah saat pergi nonton di bioskop. Kalau bukan dengan busana yang bermerek yang muahal, dandanan norak plus menor atau aroma tubuh nan wangi 7 rupa. Tujuh kali tujuh sama dengan empat sembilan. Setuju tidak setuju yang penting penampilan. Kadang juga suka bawa TOA dan berteriak "PERHATIAN! PERHATIAN! LIHAT GUE DONK!"
2. Penonton Piknik
Siapa yang tidak sepakat jika bioskop adalah tempat rekreasi n tamasya? Terutama jika sedang ada pemutaran film anak-anak, banyak orangtua yang memboyong anak-anaknya yang seperti kesebelasan nonton bersama. Sambil baris berbaris masuk ke bioskop, tak lupa bawa botol aer, cemilan dan juga lalapan buat dinikmati pada saat nonton pelem.(Mungkin juga tiker buat jaga-jaga kalau tempat duduk kurang)
3. Penonton Pacaran
Terserah mau dengan lain jenis ataupun sejenis(Maho). Bagi mereka yang berusia remaja, nonton bioskop adalah alasan ampuh untuk pergi dari rumah. Biasanya Penonton tipe ini suka memilih bangku yang di pojokan atau yang paling atas, begitu lampu dimatikan dan pelem dimulai, mereka mulai beraksi juga. Bukan masalah pula, mau kelas atas atau kelas kambing, kelas AC atau kelas kipas angin. Yang penting sama-sama gelap untuk bisa kencan, Pelem yang ditonton juga terkadang tak penting ceritanya. Taglinenya: film main, penonton main.
4. Penonton Pembajak
Tipe ini termasuk yang muncul belakangan seiring maraknya pelem bajakan. Teknologi baru melahirkan tipe penonton jenis ini. Dengan seperangkat kamera video mini, penonton pembajak merekam film dari awal sampai akhir. Maka tak heran, jika anda membeli VCD atau DVD bajakan berkualitas buruk, acapkali gambarnya goyang dan terdengar suara penonton ataupun bayangan tubuh penonton yang sedang melintas. Tentu saja tidak untuk ditiru, secara harga karcis bioskop jaringan 21 sudah terjangkau, paling murah kira-kira seharga dua mangkok mie ayam deh!
5. Penonton Spoiler
”Nanti habis ini jagoannya ditembak, eh malah kena temannya”.
"Setelah cewek ini lewat, setannya nongol di belakang kaca itu.."
Kalimat-kalimat kek gini tentu saja sangat mengganggu kenikmatan saat menonton film. Maklumlah, umumnya penonton datang ke bioskop untuk mengetahui jalan cerita film secara utuh. Karena endingnya sudah diketahui oleh penonton tipe ini, maka dia gak nahan buat nyerocos cerita soal endingnya ke penonton sebelahnya. Biasanya penonton spoiler ini mereka yang sudah nonton film sebelumnya ampe hafal dari awal ampe akhir ceritanya.
6. Penonton Kritikus Film
Kritikus film atau kritikus bukan ini-atau itu atau wartawan film terserah. Merekalah yang biasanya sibuk sendiri saat film diputar. Dengan bantuan penerangan dari ponsel mereka mencatat bagian-bagian yang dianggap penting dari film yang mereka tonton. Namun kini peran ponsel itu sudah tergantikan dengan perangkat gadget yang lebih canggih, entah PDA, communicator atau blackberry. Jadi setelah mereka mencatat hal-hal yang penting langsung dimuat di forum, surat kabar atau blog pribadi.
7. Penonton Ponsel
Penggunaan ponsel marak sejak satu dekade silam, tepatnya akhir 1990-an. Ketika masih jarang pemiliknya, wajar saja jika dia bersikap pamer dengan bicara keras-keras saat menjawab telepon, tapi hari gini?
"YA! YA! BOLEH LAH YOU KONTAK I NANTI, I LAGI NONTON DULU YA!"
(pengen rasanya ngambil sendal nimpukin orang yang norak teriak-teriak di bioskop kaya gini)
Sekalipun saat nonton di bioskop. Ternyata, perilaku kampungan ini masih juga belum hilang sama sekali. Sekalipun sudah dibuatkan himbauan larangan penggunaan ponsel saat film diputar, masih banyak nyengir kuda aja plus cuek bebek teleponan disaat pelem lagi berlangsung.(kadang yang diomongin di telepon gak penting)
8. Penonton Tidur
Tipe penonton ini terbagi lagi atas ada dua macam. Pertama, sang penonton yang sudah kelelahan entah abis ngapain tapi maksa nonton hingga jatuh terlelap plus ngorok. Kedua, film yang ditonton bikin boring(bosan) hingga lebih baik tidur daripada maksa mata buat melotot nonton. Atau kata lainnya film itu dibuat khusus untuk mereka yang sulit tidur atau insomnia.
Ada juga yang film belum dimulai dan masih terdengar nada lagu tunggu pemutaran, sudah tidur.
9. Penonton Telmi
”Kok jagoannya mati? Kemana musuhnya tadi?” Jika pertanyaan macam ini datang dari penonton sebelah kita ini namanya malapetaka. Masih mending jika dia yang membayari karcis untuk nonton filmnya. Kata telmi alias telat mikir, bisa juga dari bahasa Inggris tell me, atau ceritain lagi dong. Tentu saja sungguh bikin repot dan mengurangi kenikmatan nonton.(Mening kalo ketemu yang kayak gini, lo kasih minum gibolan(obat yang meningkatkan daya pikir) dulu sebelon nonton)
10. Penonton Perfeksionis
Konon penonton macam ini sungguh mengerti seluk-beluk film. Ciri-cirinya: selalu memelototi layar yang ada di depan matanya. Dia akan protes jika gambarnya tidak fokus, teks terjemahan yang kurang pas atau goyang-goyang, apalagi jika film yang putus di tengah jalan(Maaf kesalahan teknis, bla..bla..bla). Nah, jika ada yang teriak-teriak saat terjadi kondisi yang disebut belakangan boleh juga termasuk penonton perfeksionis.
Biasanya penonton Perfeksionis ini akan memilih duduk di bagian depan karena bisa melototin semuanya dengan jelas dan dengan ejaan yang benar serta disempurnakan.(Guru bahasa kali yeh???)
11. Penonton Tegang
Penonton macem ini biasanya ini menonton dengan penuh antusias, sekalipun pelemnya itu komedi, dia akan bersikap serius dan tegang. Pengakuan penonton tipe ini, pada saat dia nonton serasa masuk ke dalam dunia pelem itu sendiri dan berperan seperti aktor atau aktris tersebut dan juga merasakan bagaimana rasanya pada saat sang aktor atau aktris kena tembak. Hati-hati juga buat yang nonton disebelah penonton tipe ini, karena tegangnya dia bisa kesurupan dan memegang erat-erat atau meninju penonton disebelahnya itu.
Nah setelah nyimak tipe-tipe diatas ini, termasuk tipe penonton bioskop kek gimana sih lo?
Nyebelin atau nyenengin yeh?
Sabtu, 02 Mei 2009
Ngalor Ngidur Aja
Beberapa jam sebelumnya, aktivitas gue selaen napas adalah nonton dvd yang berada di rak tercinta(lihat posting gue sebelumnya mengenai "Rak Koleksi DVD Buluk Gue")
Sempet ngantuk dan melek lagi ketika ada sms dari seseorang masuk kemudian ngantuk lagi..(sempet kepikiran mau ambil batang korek api buat ngeganjel ni mata tapi ga jadi)
Setelah sempet ngucapin gud nite n mornin sama "SeseorangYangMembuatkuJatuhHati",
gue dengan sukses ngupil pake jari telunjuk(ga penting amat y).
Setelah itu gue cek n ricek Muka Buku(Face book), barangkali ada yang ngirimin apa gitu tapi ternyata nihil(nasib manusia kurang terkenal mungkin gini kali ya).
Fcuk!(kata-kata umpatan gaul)
(bisa juga dibaca Fucuk=Bahasa khek Kembang tahu, huaauahau)
Anyway, pas gue lagi ngebrowse di youtube, gue nemuin video yang cukup lucu dan udah ditonton 97 juta orang dunia nih..
Cek n Ricek thiz out deh...
Charlie bit my finger again!
http://www.youtube.com/watch?v=_OBlgSz8sSM
Adiknya emang lucu, bulet kaya semangka kepalanya, huahahaha...
Hmm..
It's time for bed..
Ngalor Ngidur-nya laen kali gue sambung deh...
Jumat, 01 Mei 2009
Angels Demons
Menurut gue pribadi, pelem yang atu ini kurang kriuk-kriuk(greget) dibandingkan film prekuel "The Da Vinci Code"(mungkin karena ga ada yg makan chitato atau kacang pilus di pelem ini, huahaha...)
Sedikit ulasan tentang film ini dari gue...
Di dalam fim ini kita akan menyaksikan bagaimana Prof. Robert Langdon(Tom hanks) akan kembali memecahkan sebuah misteri yang terjadi di Vatikan.(padahal udah cape dibuli-buli sama oppus dei di "The Da Vinci Code")
Film ini bermula dengan adanya upacara penghormatan atas meninggalnya paus yang terdahulu dan pihak Vatikan dan khalayak umum akan menunggu munculnya Paus baru yang akan menggantikannya. Di masa penantian itu tiba-tiba muncul ke permukaan bahwa adanya organisasi kuno yang sangat kuat yang dikenal sebagai kelompok “Illuminati” berusaha mengacaukan Gereja Katolik di Roma. Organisasi ini memang terkenal sering mengacaukan berbagai aliran kuat di berbagai belahan dunia. Sementara itu, di Itali terdapat sebuah lembaga riset yang sedang meneliti sebuah energi alternatif masa depan yang disebut “Antimateri”. Mereka berhasil menemukan energi luar biasa tersebut, namun pada saat itu pula terjadi pembunuhan seorang ilmuwan senior di lab rahasia dan energi tersebut dicuri dan jatuh ke tangan pihak lain yang tak bertanggung jawab. Disinyalir dari para penemu bahwa energi tersebut dapat menimbulkan suatu efek negatif yaitu menjadi sebuah senjata pemusnah massal berupa bom waktu. Hal ini tersiar sampai ke Vatikan dan membuat pihak Garda Swiss menjadi panik dan berusaha melindungi Vatikan dari ancaman besar yang akan terjadi.
Eng ing eng...
Prof. Robert Langdon dan seorang ilmuwan perempuan bernama Vittoria Vetra (Ayelet zurer, cantik lho yang maen) yang ikut serta sebagai anggota riset “Antimateri” dimintai bantuannya oleh pihak Vatikan melalui Garda Swiss untuk memecahkan misteri demi misteri, sebuah rencana rahasia yang saling berkaitan dan berhubungan dengan hilangnya “Antimateri” serta rencana gangguan yang diciptakan dari pada organisasi “Illuminati” tersebut.(panjangg ga tuh?!) Langdon dan Vetra saling bekerjasama menelusuri kapel-kapel dan berusaha memecahkan misteri simbol-simbol kuno Vatikan yang berusia kurang lebih 400 tahun yang menjadi kunci untuk menyelamatkan Kapel-kapel di Vatikan dari kehancuran.
Bagaimana bentuk teror yang diciptakan oleh pihak “Illuminati” dan apa hubungannya dengan Bom waktu yang hilang serta pelantikan Paus yang baru?
Penasaran n mau tahu? Spoiler ga ya..hmm...Lu tonton aja di bioskop pas tanggal 15 mei, hehehe...
Tagline dari Pelem ini:
"The Holiest event of our time. Perfect for their return."
Bomnya dahsyat juga pas meleduknya, untung gue ga disono, wakwakwawka....
Rabu, 29 April 2009
Rak Koleksi DVD Buluk Gue
Orang aja bisa narsis, kalo ini bisa dibilang dipidi-dipidi narsis, heuehuehue...
Pada rak bagian atas ini, terdapat koleksi dipidi buajakan yang notabene pilem-pilem hollywood papan atas (papan penggilesan dipake emak gue, gak nyambung ya gan?gpp de)
Pada bagian Rak kedua ini, isinya Pilem-pilem Asia dan campuran yang CukupMenghiburDiSaatSedangTakAdaKerjaan, Ada juga Dipidi Mv dan Karaoke yang Nyasar...

Nah kalo yang ini Rak-rak koleksi Dipidi gue berdasarkan kategori jenis pilem, dari pilem Serial, Gebok-gebokan, Jitak-menjitak, Cinta-cintaan, Balap-balapan, Setan-menyetan juga ada lho...
Nah, inilah koleksi Dipidi gue yang nemenin gue ngabisin waktu kalo lagi nyantai n mumet ama segala aktipitas yang gue lakukan sehari-hari (kalo bernapas gue masih sering lakukan dan ga bosen-bosen seh, heueheu)...
Senin, 27 April 2009
Sebuah Renungan Dari Andi F Noya
Hmm...Ini ada sebuah renungan tentang hidup yang setelah gue baca ternyata punya arti dan makna yang cukup mendalam. Salut buat yang menulis ini...
Kaca Spion by Andi F Noya
Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta .
Tapi, suatu hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana .
Bukan untuk baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan.
Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler.
Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu.
Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul.
Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama.
Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda?
Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri.
Bukan soal rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah.
Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro.
Ini tempat favorit saya.
Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia.
Biasanya satu sampai dua jam saya di sana .
Jika masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya minati.
Bau harum buku, terutama buku baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang.
Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di luar pagar.
Kain penutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero
Jakarta . Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong.
Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi.
Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang Indonesia .
Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis Indonesia.
Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA.
Karir saya terus meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan Metro TV.
Sampai suatu hari, kerinduan itu datang.
Saya rindu makan gado-gado di sudut jalan itu.
Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadi gundah.
Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan kegundahan tersebut.
Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri saya sendiri.
Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan
punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah.
Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya.
Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya .
Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjadi trauma masa kecil saya.
Waktu itu umur saya sembilan tahun.
Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola.
Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah.
Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang.
Jarak 10 kilometer saya tempuh tanpa berhenti.
Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur.
Upaya yang sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca.
Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. D
engan ukuran kamar yang cuma enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu.
Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar.
Rupanya sang pemilik mobil datang.
Dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya.
Intinya dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.
Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion mobilnya.
Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar.
Terutama bagi ibu yang mengandalkan penghasilan dari menjahit baju.
Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu.
Dalam sebulan, order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma satu. D
engan penghasilan dari menjahit itulah kami - ibu, dua kakak, dan saya - harus bisa bertahan hidup sebulan.
Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut.
Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang.
Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uang untuk itu.
Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan.
Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion mobil baginya?
Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?
Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba.
Saya benci pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal.
Saya benci orang kaya.
Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobil mewah.
Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya.
Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya.
Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan.
Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari.
Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan.
Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di dalam mobil mewah.
Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan.
Mereka tidak punya hati nurani.
Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliah begitu lezat,
saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enak di lidah.
Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah berubah. Hal yang sangat saya takuti.
Kegundahan itu saya utarakan kepada istri. Dia hanya tertawa. ''Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah.
Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan. D
ulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan.
Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang enak-enak.
Citarasamu sudah meningkat,'' ujarnya. Ketika dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan,
"Kamu berhak untuk itu. Sebab kamu sudah bekerja keras."
Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu.
Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang kaya itu jahat.
Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya terima, ada ketakutan saya akan berubah.
Saya takut perasaan saya tidak lagi sensitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado yang berubah rasa.
Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong.
Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif.
Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya tabrak.
Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam
kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang.
Penumpang dan orang yang dibonceng terjerembab.
Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah.
Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya.
Namun, saya terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh.
Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi.
Selain karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok.
Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas.
Wajah pucat itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion.
Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung.
Sang ibu, yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf atas keteledoran anaknya.
Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi.
Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera luluh.
Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya.
Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu.
Apalah artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul.
Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka.
Dengan begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan.
Setidaknya siang itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian.
Kebencian seperti yang pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup yang pahit.
Well...menurut opini gue pribadi, kehidupan itu terus berputar bagai roda tiada kendali, gak selalu kita berada di bawah dan gak selalu juga kita berada di atas. Renungkan dan Syukurilah apa yang terjadi dalam hidup ini.